Sebut Serangan ke Iran sebagai ‘Perang Suci’, Retorika Menhan AS Pete Hegseth Menuai Kecaman
BAGYNEWS.COM - Menteri Perang (sebelumnya Menteri Pertahanan) Amerika Serikat, Pete Hegseth, memicu kontroversi global setelah menyebut operasi militer terhadap Iran didasari oleh upaya menghentikan apa yang ia istilahkan sebagai "delusi kenabian Islam".
Pernyataan ini dinilai berbagai pihak sebagai retorika berbahaya yang dapat menyeret konflik politik menjadi perang agama.
Dalam pidatonya pada Senin 2 Maret 2026 waktu setempat, Hegseth menegaskan dukungan penuhnya terhadap operasi militer besar-besaran yang diperintahkan Presiden Donald Trump.
"Rezim seperti Iran, yang sangat bergantung pada delusi Islam bersifat kenabian, tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujar Hegseth. Pernyataan tersebut diduga merujuk pada keyakinan eskatologi Syiah (dan juga diyakini sebagian Sunni) mengenai kedatangan Imam Mahdi di akhir zaman.
Hegseth mengklaim bahwa operasi udara yang diluncurkan dua hari lalu merupakan yang paling mematikan dan presisi dalam sejarah militer. Ia menuduh Teheran telah melancarkan perang proksi melawan AS selama puluhan tahun.
"Kami tidak memulai perang ini, tetapi di bawah kepemimpinan Presiden Trump, kami akan menyelesaikannya. Jika Anda mengancam orang Amerika, kami akan memburu Anda tanpa ragu dan tanpa permintaan maaf," tambahnya.
Sejak menjabat, Hegseth yang dikenal sebagai sosok nasionalis Kristen konservatif telah mengubah nama resmi departemennya dari Secretary of Defense menjadi Secretary of War (Menteri Perang).
Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mengecam keras penggunaan narasi agama untuk membenarkan agresi militer. CAIR menilai retorika Hegseth serupa dengan gaya bahasa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang kerap menggunakan kiasan Alkitab tentang "Amalek" untuk membenarkan tindakan militer di Gaza dan Iran.
"Sangat tidak dapat diterima bagi pejabat AS untuk mengadopsi retorika 'perang suci' yang berbahaya. Ini berisiko mengubah konflik ilegal menjadi perang agama yang mematikan," tulis pernyataan resmi CAIR.
Laporan mengejutkan juga datang dari Military Religious Freedom Foundation (MRFF). Lembaga ini menerima lebih dari 200 keluhan dari personel militer AS yang merasa tertekan oleh doktrin keagamaan dari komandan mereka.
Michael L. Weinstein, pendiri MRFF, mengungkapkan bahwa sejumlah komandan unit tempur memberitahu prajuritnya bahwa perang melawan Iran adalah "rencana Tuhan" untuk memicu kiamat atau Armageddon, yang akan menandai kembalinya Yesus ke Bumi.
"Salah satu bintara melaporkan komandannya tersenyum lebar saat mengatakan bahwa Presiden Trump telah diurapi untuk menyalakan 'api sinyal' di Iran demi menjemput kedatangan Kristus," kata Weinstein.
Hegseth sendiri diketahui aktif mensponsori studi Alkitab mingguan yang mengajarkan dukungan mutlak bagi Israel berdasarkan nubuat teologis. Hingga saat ini, pihak Pentagon belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan mengenai infiltrasi ajaran fundamentalis Kristen di jajaran komando militer mereka.()
sumber: gelora