Update Perang Iran vs AS-Israel: 650 Tentara AS Tewas dan Terluka
BAGYNEWS.COM -;Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki fase kritis setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran merilis laporan terbaru terkait operasi militer bertajuk True Promise 4.
Dalam pernyataan resminya, Selasa 3 Maret 2026, Teheran mengklaim telah menimbulkan kerugian besar pada pihak Amerika Serikat (AS), meski angka tersebut dibantah keras oleh Washington.
Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa lebih dari 650 tentara Amerika Serikat tewas atau terluka hanya dalam dua hari pertama operasi. Jika klaim ini akurat, peristiwa tersebut akan tercatat sebagai salah satu kerugian militer AS terbesar dalam sejarah konflik modern di kawasan tersebut.
Operasi True Promise 4 dilaporkan menyasar sejumlah titik vital militer AS di kawasan Teluk Persia menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone tempur.
Menurut laporan IRGC, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain menjadi salah satu target utama. Iran mengklaim fasilitas tersebut dihantam serangan berulang yang mengakibatkan sekitar 160 personel menjadi korban. Selain pangkalan darat, Iran juga mengaku berhasil merusak kapal logistik tempur AS menggunakan rudal presisi.
Satu poin yang menjadi sorotan adalah klaim peluncuran empat rudal jelajah ke arah kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal induk tersebut diklaim terpaksa mundur ke arah Samudra Hindia bagian tenggara setelah terdeteksi berada sekitar 250–300 kilometer dari pantai Chabahar, Iran.
“Wajar jika Amerika menyangkal atau menyembunyikan angka korban ini. Namun, data kami telah diverifikasi melalui laporan intelijen dan pemantauan medan perang,” tegas Naeini.
Hingga saat ini, Departemen Pertahanan AS belum mengonfirmasi angka yang dirilis IRGC. Laporan dari media AS, termasuk CBS News, menyebutkan bahwa jumlah korban tewas sejauh ini hanya berjumlah enam personel, termasuk dua jenazah yang sebelumnya dinyatakan hilang.
Perbedaan data yang sangat kontras ini memperlihatkan adanya "perang informasi" yang masif.
Analis geopolitik menilai kedua pihak tengah menggunakan strategi psikologis untuk memperkuat posisi tawar masing-masing, baik di mata domestik maupun internasional.
Dampak Global
Kembali memanasnya Teluk Persia menempatkan jalur perdagangan energi dunia dalam risiko tinggi. Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi minyak global, kini berada di titik pusat ketegangan. Eskalasi ini dikhawatirkan akan memicu, lonjakan harga minyak, potensi konflik regional yang meluas ke negara-negara sekitar dan ketidakpastian pasar yang dapat menghambat stabilitas ekonomi internasional.
Dunia kini menanti konfirmasi dari pihak independen untuk memastikan fakta di lapangan. Tanpa adanya verifikasi dari lembaga internasional, angka korban yang dirilis kedua belah pihak masih dipandang sebagai bagian dari narasi perang.
Namun, satu hal yang pasti, Operasi True Promise 4 telah membawa hubungan Iran, AS, dan Israel ke level yang paling berbahaya, mengancam menyeret stabilitas global ke dalam fase yang lebih gelap. ()
sumber: gelora