Oleh: Hevi Heri Antoni, MSi
Sekretaris Dinas Komunikasi Informasi Statistik dan Persandian Kabupaten Kuantan Singingi
BI BAWAH barisan nisan putih yang berjajar rapi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Dharma Pekanbaru, terselip sebuah nama yang membawa ingatan kita pada deru perlawanan di pedalaman Riau seabad silam.
Di Blok G Nomor 375, bersemayam jasad seorang lelaki yang di masa hidupnya lebih memilih memanggul senjata daripada tunduk pada titah kompeni: Datuk Bandaro Kuning.
Ia bukan sekadar nama dalam daftar administrasi veteran. Bagi masyarakat Kenegerian Inuman, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Datuk Bandaro Kuning adalah simbol harga diri. Ia adalah perwujudan dari "Tuah" yang menjaga tanah ulayat dari cengkeraman penjajah.
Panglima Adat di Garis Depan
Gelar "Datuk Bandaro Kuning" bukanlah sembarang sebutan. Ia adalah gelar kebesaran ninik mamak, pemangku adat tertinggi yang menjadi payung bagi anak kemenakan di Inuman. Namun, sejarah mencatat bahwa pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, peran sang Datuk melampaui tugas-tugas adat.
Saat Belanda mulai mengincar emas di kawasan Pulau Godang sekitar tahun 1890-an, Datuk Bandaro Kuning berdiri di baris terdepan. Ia tak sendirian. Bersama para sejawatnya Datuk Tabano dan Datuk Bandaro Sati ia merajut simpul perlawanan rakyat Limo Koto Kampar hingga Kuantan Singingi.
Lembah-lembah sungai Riau daratan menjadi saksi bisu bagaimana taktik gerilya mereka membuat pasukan Belanda di bawah pimpinan Perwira Berenchat kewalahan.
Mengandalkan senjata tradisional dan pengetahuan mendalam atas rimba raya, pasukan adat ini membuktikan bahwa semangat juang jauh lebih tajam daripada bayonet musuh.
Marwah yang Tak Terbeli
Satu hal yang paling diingat dalam sejarah lisan masyarakat Inuman adalah keteguhan hati sang Datuk. Di tengah godaan kekuasaan dan kerja sama yang ditawarkan pihak kolonial, Datuk Bandaro Kuning memilih jalan sunyi perlawanan.
Baginya, martabat adat dan kedaulatan negeri tak bisa ditukar dengan kepingan emas atau jabatan.
Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi sosok yang disegani. Meski kini ia beristirahat di tanah Pekanbaru, jauh dari tepian sungai Kuantan yang ia cintai, namanya tetap harum di sela-sela silsilah keluarga dan petuah adat yang turun-temurun.
Warisan Cerita dari Sang Cucu
Bagi Bupati Kuantan Singingi, Dr. H. Suhardiman Amby, MM, Datuk Bandaro Kuning bukan sekadar tokoh dalam buku sejarah. Ia adalah kakek, sosok pahlawan rumah tangga yang kisahnya menjadi pengantar tidur di masa kecil.
"Dulu waktu kami kecil, ibu saya sering bercerita tentang lika-liku perjuangan sang datuk," kenang Suhardiman dengan mata berkaca-kaca saat bersimpuh di pusara sang kakek, Senin 11 Mei 2026
Ada getaran emosional yang kuat saat Suhardiman menaburkan bunga di atas nisan nomor 375 itu. Baginya, darah pejuang yang mengalir di tubuhnya adalah beban sekaligus kehormatan.
"Tugas kita sekarang bukan lagi memegang bedil, melainkan melanjutkan pengabdian almarhum. Harapan saya sebagai cucu adalah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Kuansing, tanah yang dulu diperjuangkan oleh kakek kami," ucap Suhardiman lirih.
Menolak Lupa
Meski gelar "Pahlawan Nasional" belum tersemat secara administratif di depan namanya, bagi rakyat Inuman dan Kuantan Singingi, Datuk Bandaro Kuning telah lama bertahta di singgasana tertinggi sebagai pahlawan di hati mereka.
Ziarah sang cucu hari itu menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di balik ketenangan TMP Kusuma Dharma, ada kisah-kisah hebat tentang keberanian para tetua adat yang pernah bertaruh nyawa demi sejengkal tanah ulayat. Datuk Bandaro Kuning telah menunaikan tugasnya, kini giliran sejarah yang menjaga namanya agar tak lekang oleh waktu. ****
| Penulis | : |
| Editor | : Bastian |
| Kategori | : Kuantan Singingi |
© Bagynews.com. All Rights Reserved. Designed by HTML Codex

