Feature / Jum'at, 26 Juni 2026 11:34 WIB

Asa yang Terendam Rob di Batang Tumu: Jeritan Petani Kelapa Menanti Penyelamatan ​

AROMA khas payau bertiup kencang di antara jajaran pohon kelapa di Dusun I, Desa Batang Tumu, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Namun, tak ada lagi lambaian daun kelapa yang ceria. Di sana, ratusan hektare hamparan hijau yang menjadi urat nadi kehidupan warga kini tampak merana.

Batang-batangnya mulai miring pasrah, sebagian lagi ringkih menunggu waktu untuk tumbang.
​Air laut pasang (rob) telah lama merangsek masuk, menggenangi akar-akar tanaman yang menjadi tumpuan hidup warga, mengubah kebun-kebun produktif menjadi rawa asin yang mematikan.

​Bagi masyarakat Batang Tumu, kelapa bukan sekadar komoditas pertanian atau angka-angka di atas kertas statistik. Di tanah pesisir ini, sebutir kelapa adalah penyambung nyawa. 

Dari sabut dan tempurung itulah kepulan asap dapur mengepul, biaya sekolah anak-anak terbayar, dan roda ekonomi rumah tangga tetap berputar. Ketika air laut merusak akar kelapa mereka, seketika itu pula pondasi ekonomi ribuan keluarga ambruk ke titik terendah.

​"Kalau Kebun Rusak, Kami Harus Hidup dari Mana?"

​Kini, buah kelapa yang dipanen tak lagi lebat. Ukurannya mengecil, tanda pohon sedang sekarat akibat kadar garam yang berlebih. Di tengah keputusasaan itu, seorang pemuda kampung yang akrab disapa Al, menatap nanar ke arah kebun yang terendam. Suaranya bergetar saat menyuarakan jeritan hati tanah kelahirannya.

​"Selama ini masyarakat hanya bergantung pada hasil kebun kelapa. Kalau kebun rusak dan hasil panen terus menurun, kami harus hidup dari mana?" keluh Al dengan nada getir.

​Al menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Inhil, Pemerintah Provinsi Riau, hingga para wakil rakyat di kursi DPRD tidak menutup mata pada nasib wilayah pesisir. 

"Kami berharap pemerintah turun langsung melihat kondisi kami. Segera bantu peremajaan kebun dan bangun tanggul agar air laut tidak terus-menerus merusak lahan masyarakat," tambahnya.

​Penderitaan petani Batang Tumu bak sudah jatuh tertimpa tangga. Belum usai mereka bertarung melawan alam, hantaman keras datang dari pasar. Harga jual kelapa terjun bebas ke angka yang tak lagi manusiawi jika dibandingkan dengan peluh keringat yang dikeluarkan.

Pendapatan yang kian menipis ini membuat para petani harus memutar otak lebih keras hanya untuk sekadar bertahan hidup dari hari ke hari.

​Masyarakat Desa Batang Tumu berharap nestapa ini tidak dibiarkan berlarut-larut menjadi pemandangan biasa. Tanpa adanya tindakan nyata dan penanganan yang serius, kerusakan kebun dipastikan akan semakin meluas dan perlahan mematikan masa depan generasi penerus di sana.

​Masyarakat menuntut agar jargon pembangunan kawasan pesisir tidak berakhir sebagai wacana manis di atas panggung kampanye, melainkan diwujudkan dalam kebijakan konkret. 

Solusinya sudah jelas dan mendesak: peremajaan tanaman kelapa yang sudah tua, pembangunan tanggul penahan ombak, serta normalisasi saluran air.

​"Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya ingin kebun kami bisa kembali produktif sehingga masyarakat dapat bekerja, memperoleh penghasilan, dan hidup dengan layak. Semoga pemerintah mendengar suara kecil dari Batang Tumu ini sebelum semuanya terlambat," tutup Al, menitipkan sebongkah harapan yang tersisa di sela jajaran pohon kelapa yang kian meranggas.****

Oleh: Hasan 

Penulis :
Editor : Bastian
Kategori : Feature

Feature

© Bagynews.com. All Rights Reserved. Designed by HTML Codex