BAGYNEWS.COM - Pengunduran diri Nusron Wahid dari kepengurusan DPP Partai Golkar yang disebut telah berlangsung lebih dari enam bulan lalu baru menjadi perhatian publik setelah namanya terseret dalam perkara dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Sarmuji sebelumnya mengungkapkan bahwa Nusron telah mengundurkan diri dari kepengurusan DPP lebih dari enam bulan lalu. Namun, Nusron hingga kini masih berstatus sebagai kader Partai Golkar.
Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, menyoroti belum adanya penjelasan langsung dari Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengenai status Nusron setelah tidak lagi berada dalam struktur kepengurusan DPP.
"Kalau Bahlil masih bungkam soal status Nusron itu pasti ada apa-apanya tuh. Padahal kalau benar Nusron mundur enam bulan lalu, Bahlil dan Golkar tidak punya beban lagi," kata Muslim, Minggu 20 September 2026
Muslim mengatakan, waktu pengungkapan pengunduran diri Nusron menjadi perhatian karena disampaikan setelah perkara dugaan suap di lingkungan ATR/BPN mencuat dan sejumlah orang yang disebut memiliki hubungan dengan Nusron ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Yang menjadi dugaan publik, Nusron masih anggota atau pengurus Golkar. Makanya Bahlil jadi kikuk. Bacaan publik Bahlil dan Golkar dianggap lindungi Nusron dan terduga koruptor," ujarnya.
Muslim juga menyoroti tidak adanya pengumuman terbuka dari Partai Golkar terkait pengunduran diri Nusron dari struktur DPP apabila keputusan tersebut memang telah disampaikan sejak lebih dari enam bulan sebelumnya.
"Bungkamnya Bahlil ini menyimpan misteri soal keberadaan Nusron di Golkar. Bisa jadi Nusron masih anggota atau pengurus Golkar. Saat kejadian OTT soal BPN yang seret nama Nusron baru diakui mundur. Enam bulan lalu? Aneh saja," tuturnya.
Dia kemudian mempertanyakan alasan tidak adanya pemberitaan maupun pengumuman resmi partai mengenai pengunduran diri Nusron dari struktur kepengurusan DPP.
"Kalau mundur dari Golkar? Kenapa enggak ada berita dan pengumuman. Terlihat antara Ketum Golkar, Bahlil dan Sekjen Golkar sedang bersandiwara bela Nusron?" tanya Muslim.
Sarmuji sebelumnya memastikan Nusron telah menyampaikan pengunduran dirinya secara langsung kepada Bahlil. Menurut Sarmuji, pengunduran diri tersebut hanya dari struktur kepengurusan DPP, sedangkan status Nusron sebagai kader Partai Golkar tetap berlaku.
Nusron sebelumnya tercatat sebagai Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian DPP Partai Golkar periode 2024–2029 di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia.
Sementara itu, KPK telah menetapkan delapan orang sebagai tersangka dalam perkara dugaan suap dan penerimaan lainnya di lingkungan ATR/BPN. Perkara tersebut berkaitan dengan pengurusan pertanahan, termasuk proses Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk di Kabupaten Bogor.
Dalam perkara tersebut, KPK juga menyebut adanya sejumlah pihak yang memiliki hubungan dengan Nusron. Nusron sendiri belum ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut.
Nusron sebelumnya menyatakan menghormati proses hukum yang sedang berjalan di KPK. Ia juga menyebut Kementerian ATR/BPN akan membantu proses penyidikan yang dilakukan lembaga antirasuah tersebut. ***
Sumber: monitorIndonesia
| Penulis | : |
| Editor | : |
| Kategori | : Politik |
© Bagynews.com. All Rights Reserved. Designed by HTML Codex

