Kikis Garis Pantai Hampir 40 Meter per Tahun, Meranti Lirik Teknologi Pemecah Ombak Geopolimer
BAGYNEWS.COM - Ancaman abrasi parah yang menggerus pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti, khususnya di Pulau Rangsang, mendorong pemerintah daerah mencari solusi inovatif.
Di tengah keterbatasan anggaran, Pemkab Kepulauan Meranti bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Riau mengkaji penerapan teknologi eco-breakwater berbasis geopolimer yang memanfaatkan limbah batu bara (fly ash dan bottom ash) dari PLTU.
Gagasan ini dibahas dalam pertemuan Tim Survei BRIDA Riau dan Pemkab Meranti di Ruang Melati Kantor Bupati, Senin 26 Oktober 2026, sebagai langkah awal pengambilan data lapangan di Kecamatan Rangsang Pesisir.
Sekda Kepulauan Meranti H. Sudandri Jauzah, S.H., yang hadir mewakili Bupati AKBP (Purn.) H. Asmar, menekankan bahwa laju abrasi di wilayahnya sudah berada di tingkat yang mengkhawatirkan.
Data menunjukkan abrasi di sejumlah titik seperti Rangsang Barat, Rangsang Pesisir, dan Rangsang mencapai hampir 40 meter per tahun.
"Pulau Rangsang merupakan garda terdepan kehidupan masyarakat di Kepulauan Meranti. Persoalan abrasi ini harus ditangani serius karena tidak hanya menghilangkan daratan, tetapi juga mengancam permukiman, perkebunan, mangrove, hingga sentra pangan seperti sagu, padi, kelapa, dan kopi," ujar Sudandri.
Inovasi Beton Serat Geopolimer
Dalam pemaparannya, peneliti dari BRIDA Riau, Dr. Lukman Hakim Nasution, S.T., M.T., menjelaskan bahwa eco-breakwater dirancang bukan sekadar dinding penahan biasa, melainkan struktur yang mampu meredam energi benturan gelombang Selat Malaka sebelum menghantam daratan.
Berdasarkan simulasi awal, material ini berpotensi meredam 50 hingga 70 persen gaya hantaman gelombang.
Material tersebut mengombinasikan fly ash dan bottom ash dengan sistem geopolimer agar cepat mengeras, tahan terhadap air laut, serta memiliki kadar garam tinggi.
Tim saat ini menyiapkan sekitar 100 batang material modular berukuran panjang dua meter dan diameter enam inci yang dirancang fleksibel menyesuaikan kedalaman lumpur, serta dikombinasikan dengan penanaman mangrove di bagian belakang.
Tantangan Fiskal dan Kolaborasi Lintas Sektor
Sekda Sudandri mengakui bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Meranti sangat terbatas untuk menangani abrasi secara menyeluruh. Karena itu, pihaknya berharap persoalan ini dipandang sebagai kepentingan nasional agar mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah provinsi hingga pusat.
Selain itu, kajian ini turut membuka peluang sinergi dengan PLTU dan PLN Nusantara Power untuk pasokan bahan baku limbah. Lukman berharap jika suplai bahan tersedia, proses pengolahan dapat dilakukan langsung di Meranti guna memberdayakan masyarakat setempat.
Meski demikian, efektivitas teknologi ini masih memerlukan kajian lanjutan yang mendalam terkait karakteristik tanah, pola gelombang, desain struktur, hingga kekuatan konstruksi di lapangan sebelum diterapkan secara massal.***
| Penulis |
: mdc |
| Editor |
: |
| Kategori |
: Kep Meranti |